Mmm... beberapa hari ini di kepalaku berputar-putar terus pemikiran yang sama, masalah yang sama.
Mulai tanggal 16 April, rencananya saya akan mengikuti kursus pajak di suatu universitas swasta di Jakarta, jadwalnya cukup padat, senin, selasa, kamis dan jumat, dari pukul 18.30 - 21.30.
Dengan jadwal ini, saya jadi berpikir, komunikasi yang selama ini kami lakukan, karena saya masih senggang, entah itu chatting atau telepon, akan menjadi hampir tidak bisa dilakukan lagi.
Dalam benakku berpikir, apakah ini kesempatan?
Kesempatan untuk membuat jarak., membuat hal yang tadinya terasa mustahil jadi mungkin akan bisa dilakukan, yaitu 3 bulan tanpa komunikasi!! Yaa... memang masih ada waktu kosong di hari rabu, sabtu dan minggu. Entah bagaimana, mungkin akan bisa, mungkin...
Pemikiran ini terus berputar-putar di kepala. Dan rencana ini tidak akan bisa berhasil kalau tidak kuutarakan padanya. Karena salah satu pasti akan penasaran, dan berusaha menghubungi. Sebagaimana dulu dia pernah mencoba cuek, namun karena aku tidak tahu, jadi penasaran, dan akhirnya saya lah yang terus menghubunginya duluan....
Sakit, sedih, bimbang, takut... kalau memikirkan akan menjalankan rencana ini. Apakah bisa? Saya karena ada kesibukan mungkin bisa, ada pengalih pikiran dan perhatian, tapi bagaimana dengan dia? Aku cemas...
Dari semenjak aku menyadari perasaan ini ada, aku selalu berdoa, meminta agar perasaan sukanya tidak lebih besar dari perasaanku padanya, lebih baik lagi kalau ternyata cuma aku yang Ge-eR sendiri. Karena aku tahu, aku sangat mengerti rasanya begitu menyukai orang namun tidak bisa menyampaikan, tidak bisa bersatu. Aku sangat mengerti sakitnya.
Jadi teringat, satu waktu dia pernah cerita kalau dia balikan dengan mantannya (yah, walaupun ternyata hubungan mereka yang rujuk itu hanya bertahan 1 minggu, dan putus lagi). Selama komunikasi (saya lupa, chatting atau telepon), saya bisa menstabilkan emosi saya dan menyampaikan pendapat2 objektif, dengan memposisikan diri saya, pikiran saya sebagai seorang teman baik. Tapi saat dia bilang seperti itu, sebenarnya saya sadar ada suatu bunyi 'retak' dalam hati, namun saat itu saya abaikan.
Setelah pembicaraan selesai. Saya pun mencoba untuk berkomunikasi dengan hati saya, pikiran saya, apa yang sebenarnya saya rasakan. Karena di banyak kasus, saya sering tidak terlalu paham apa yang hati dan pikiran saya rasakan, karena pengontrolan diri saya memang cukup kuat.
Tidak berapa lama, saya menangis, walaupun sebenarnya dalam pikiran saya sepertinya sedang tidak memikirkan apa-apa. Semakin lama semakin kencang, namun saya setting tanpa suara (<-- canggih amat,, hahahaaa), dan selama itu saya merasa saya menangis seperti orang gila. Dan ini berlangsung selama 1 jam? Entahlah, saya tidak perhatikan berapa lama, tapi memang cukup lama. Dan akibatnya, ta-da~~ meski sudah kompres pakai air dingin, tetap saja bengkak besok paginya. Hahaha...
Kembali ke pembahasan awal. Rencana ini begitu sering berputar-putar di kepalaku hampir dalam setiap waktu.
Aku pernah membaca artikel, saat ingin mengakhiri hubungan, harus dilakukan bertahap, sulit kalau "tiba-tiba", yaitu dimulai dengan menurunkan frekuensi komunikasi....
Berpikir, jadi mulai dari sekarang, aku harus mulai sedikit "dingin"???
Belakangan jadi sangat menghargai komunikasi dengan dia yang dilakukan. Untuk chatting yang sedang dilakukan pun, bagian2 dialog yang saya sukai sampai saya print screen, karena histroy save mode nya error, jadi tidak bisa menyimpan history percakapannya *sedih*
Hmmm... Sangat, sangat, sangat memikirkan, mempertimbangkan sekaligus meragu kalau aku bisa mengatakan soal ini padanya... Aku takut, takut dia menjauh...
Aku sangat menyukainya... mungkin sebenarnya sudah lebih dari suka, saya tidak tahu istilah apa yang tepat, sayang..? cinta..? Entahlah...
Mungkin sakit, tapi untuk bisa move on, ini mungkin memang diperlukan... *mempersiapkan hati*
Sungguh, aku takut...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar