"Aku tahu apa yang kamu pikirkan..."
Kata-kata ini sering sekali dia katakan padaku. Hmmm... aku tidak tahu, apakah dia benar-benar memahami apa yang kupikirkan, atau dia hanya menempatkan pikirannya sebagai aku atau entah bagaimana.
Aku senang saat dia mengatakan ini, karena ini berarti dia berusaha memahami jalan pikiranku, memahami apa yang kurasakan. Tapi, aku tidak benar-benar yakin dia bisa sepenuhnya mengerti apa yang kupikirkan. Sering aku merasa kalau jalan pikiranku itu rumit, kakakku juga bilang seperti itu.
Kadang, malah aku sendiri tidak mengerti.
Yang jelas, aku selalu merasa, otakku seperti tidak pernah beristirahat dari berpikir, bahkan pada saat orang melihat dan menganggapku melamun. Kadang aku benar-benar melamun, dan saat itu aku memang benar-benar nyaris berhenti berpikir. Tapi ini tidak terlalu sering kulakukan. Yang lebih sering kulakukan adalah berpikir sambil melamun.
Hm...? Kok rasanya bahasannya makin menjauh dari konsep awal, ya?
Lama-lama jadi buntu juga apa lagi yang harus kutulis soal ini. Tapi yah, mungkin dia memang paham soal aku, karena aku juga selalu berusaha untuk menjadi diri sendiri saat berinteraksi dengan dia. Hanya, dia belum kenal aku, sisi lainku saat berbenturan dengan ideologi yang kumiliki. Belum pernah menghadapi aku yang seperti itu.
Ada satu komentar dari satu orang teman baikku, cowok. Saya cukup nyaman berbincang dengan dia, demikian juga dengan dia. Dan satu waktu kami membahas soal perfeksionisme. Saya mengeluarkan semua pikiranku, ideologi yang kupunya. Dan tahukah komentar dia apa? Sejujurnya saya agak terkejut juga saat dia mengatakan ini, namun saya bisa memahaminya. Dia bilang "kalau bahas soal ini ma orang lain, orang lain bisa takut loh".
Hahahaaa... dengan kata lain, pola pikirku sangat tidak biasa bagi orang lain, ya. Kadang berpikir, apa dia juga akan takut dengan aku yang seperti itu? Hmmm.... antara ingin dengan tidak ingin cerita. Ingin, karena aku ingin tau bagaimana reaksinya. Tidak ingin, karena aku tidak ingin dia "takut" padaku..(?) Will he?
Yaaa... tik-tok... waktu terus berlalu... rasanya ingin waktu diam, di saat waktu kami berinteraksi. Tapi tidak, waktu tidak pilih kasih, semakin dekat dan semakin dekat dengan waktu dimana semua yang sudah jelas harus ditegaskan, dan yang terpending untuk diproses.
Secara keinginan dagingku... aku tidak mau...
tidak mau...
biarlah semua seperti ini saja, seperti selama ini
aku takut....
sangat takut
Kemarin, ketika hampir seharian dia tidak menghubungiku, aku mencoba latihan untuk bersabar, dengan mengalihkan pikiranku pada hal lain. Namun, tetap tidak bisa, perangkat genggamku selalu kuperiksa secara berkala, berharap ada ikon hijau whatsapp muncul sebagai notifikasi adanya pesan baru darimu... Berapa kali ingin menghubungi duluan, ingin menelepon duluan... tapi kutahan mati-matian keinginanku...
Tapi jauh di lubuk hati dan pikiranku, aku tahu, kondisi ini seperti lumpur hisap, semakin lama tenggelam, akan semakin sulit untuk keluar. Namun "lumpur hisap" ini begitu hangat, wangi dan menyenangkan..
Aku harus keluar...
Tegas pada diriku sendiri, seperti yang selama ini selalu aku lakukan
Ayolah, hanya sekali ini lagi saja!
Harus KUAT!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar